Monday, October 19, 2009

Love poems

Bukan sedang, beromantis ria, tapi love poems di bawah ini cukup menarik untuk disimak. Siapa tahu anda mau mengirimkannya ke istri, suami, anak atau teman anda.

If I could have just one wish,
I would wish to wake up everyday
to the sound of your breath on my neck,
the warmth of your lips on my cheek,
the touch of your fingers on my skin,
and the feel of your heart beating with mine...
Knowing that I could never find that feeling
with anyone other than you.

- Courtney Kuchta –

29.07.07, hari ini setahun yang lalu

puisi cinta buat Yusti Dewani

Hari ini setahun yang lalu
Ketika kusematkan cincin di jari manismu
Dan mengucap janji kudus
Kau tatap tegak mataku, penuh harapan, penuh keyakinan
Untuk menapaki hari baru, awal yang baru

Hari ini setahun yang lalu
Masih teringat jelas betapa cantik engkau dalam gaun putih
Tersipu malu ketika kukecup bibirmu

Hari ini setahun yang lalu
Kupeluk engkau erat lewati malam dalam kehangatan
Menghanyutkan kita dalam kemesraan

Satu tahun kita lewati dengan tawa dan bahagia, kadang tangis dan air mata
Kau selalu setia di sampingku, dengan cinta dan ketulusanmu

Satu tahun hebat dalam hidupku
Melihatmu mengandung benihku, melahirkan dan merawatnya
Menjadi harta terbesar buat hidup kita

Terimakasih buat cinta yang selalu ada setiap waktu
Buat kehangatan dan kemesraan yang selalu baru
Buat kesetiaan, kasih sayang dan pengertian yang menguatkanku
Sungguh satu tahun bersamamu, banyak hal-hal indah dalam hidupku
Satu tahun yang luar biasa, menjadi awal yang luar biasa

Terima kasih untuk menjadi wanita terhebat dalam hidupku


- and love is enough for us -

29.07.07 4.40am

Friday, October 16, 2009

Sacrifice for salvation



Salvation for all required the sacrifice of One most dear
The sacrifice of One bought hope for the future


Scene from the movie "MOST" An Eastwind Films Production.
www.mostthemovie.com

5 menit lagi...

Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah.

"Tuh.., itu putraku yang di situ," katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan.


Mata ibu itu berbinar, bangga.


"Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya.


"Lihat anak yangsedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku," sambungnya, memperkenalkan.


Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya.
"Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?"
Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata,
"Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa...?"

Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi.

"Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?"

Lagi-lagi Jack memohon, "Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit kok, ya? Boleh ya, Yah?" pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Pria itu bersenyum dan berkata, "OK-lah, iyalah..."

"Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar," ibu yang di sampingnya, dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu.


Pria itu membalas senyum, lalu berkata,


"Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya...."

Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas.Prioritas apa yang Anda miliki saat ini? Berikanlah pada seseorang yang kaukasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya.

Tuesday, October 13, 2009

Mati Lampu

Ini berita paling fenomenal dan spektakuler (pinjam kata2 si mbak di acara "Bukan 4 mata") di Lampung akhir-akhir ini. Setiap hari pasti bisa ditemukan di facebook warga Lampung. Entah merupakan ungkapan kekesalan, pertanyaan retorik atau malah dengan bumbu (maaf) umpatan dari berbagai derajat kekasaran...... Pemadaman Listrik (atau disederhanakan Mati Lampu). Kalau anda warga Lampung, pasti merasakan nikmatnya bergelap-gelap ria mulai jam 5 sore sampai jam 11 malam atau mulai jam 11 malam sampai jam 5 pagi; atau mulai pagrian ri jam 6 sampe jam 5 sore......
Berkali-kali istri saya menelpon ke pusat layanan gangguan PLN, berkali-kali pula tidak ada yang menjawab. Dan saya yakin bukan hanya istri saya seorang yang coba menghubungi PLN, tapi puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang juga bernasib sama.
Istri saya sampai hapal alasan-alasan klise yang akan dilontarkan oleh staff PLN: debit air di bendungan Way Besai dan Batutegi sedang surut karena kemarau sehingga berpengaruh ke produksi listrik, kerusakan generator, dllsb.
Di harian Kompas edisi 01 Okt 2009 disebutkan, pemadaman listrik belum dapat dipastikan kapan akan dihentikan karena Lampung defisit daya listrik. Saat ini sedang dibangun PLTU Sibalang di Lampung Selatan yang mampu mensupply 2X100 MW, diperkirakan selesai tahun 2011.
Jadi persiapkan rumah anda dengan lilin atau genset. Setidaknya masih ada 2 tahun ke depan kegelapan masih memayungi bumi Lampung.
Sisi baiknya (buat beberapa gelintir orang) : Setidaknya pabrik-pabrik lilin dan genset "semakin menyala". Lupakan lampu teplok dan petromak, karena langka dan mahalnya minyak tanah.
Yang mungkin jadi perenungan: apakah dengan pemadaman listrik yang nyaris setiap hari sampai tengah malam, akan berdampak pada minat belajar anak? Saya yang punya anak umur 2.5 tahun masih dengan gampangnya menggunakan "kesempatan" ini untuk jalan2 ke mall atau toko buku.
Tapi bagaimana dengan mereka yang punya anak yang sekolah di TK, SD, SMP, SMU?

Bukankah mereka harus belajar di bawah cahaya terang, bukan di keremangan lilin?

Atau haruskah setiap keluarga membeli genset yang harganya di kisaran Rp. 750,000-berjuta-juta, sedangkan untuk membayar iuran listrik pun mereka sudah megap2?

Percayalah, setelah berhasil mengkonversi minyak tanah ke gas elpiji, kita sekarang sedang dalam program meng-konversi tenaga air atau uap ke solar/ bensin.

Memulai untuk menulis

Tidak gampang untuk memulai sesuatu, apalagi yang sama sekali baru. Kadang kita takut akan hasil yang tidak maksimal, kadang kita takut bakal ada masalah menghadang, atau bahkan kita takut kalau di tengah jalan (atau baru sesaat setelah kita mulai), kita udah gak tau mau ke mana dan ngapain lagi.
Tapi hidup ada tentang memulai, menjalani dan mengakhiri. Apapun dalam hidup ini tiga bagian itu akan selalu dihadapi.

Saya selalu ingin menulis (dengan segala keterbatasan tentunya), tapi sesaat kemudian saya selalu dihadapkan dengan banyaknya alasan untuk tidak memulainya. Maka hari ini saya memutuskan (wuih.... dramatis banget kata-kata nya:) ) untuk memulai. "Anda tidak pernah tahu sebelum mencoba".

Never too late to start the new one...!