Tuesday, October 13, 2009

Mati Lampu

Ini berita paling fenomenal dan spektakuler (pinjam kata2 si mbak di acara "Bukan 4 mata") di Lampung akhir-akhir ini. Setiap hari pasti bisa ditemukan di facebook warga Lampung. Entah merupakan ungkapan kekesalan, pertanyaan retorik atau malah dengan bumbu (maaf) umpatan dari berbagai derajat kekasaran...... Pemadaman Listrik (atau disederhanakan Mati Lampu). Kalau anda warga Lampung, pasti merasakan nikmatnya bergelap-gelap ria mulai jam 5 sore sampai jam 11 malam atau mulai jam 11 malam sampai jam 5 pagi; atau mulai pagrian ri jam 6 sampe jam 5 sore......
Berkali-kali istri saya menelpon ke pusat layanan gangguan PLN, berkali-kali pula tidak ada yang menjawab. Dan saya yakin bukan hanya istri saya seorang yang coba menghubungi PLN, tapi puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang juga bernasib sama.
Istri saya sampai hapal alasan-alasan klise yang akan dilontarkan oleh staff PLN: debit air di bendungan Way Besai dan Batutegi sedang surut karena kemarau sehingga berpengaruh ke produksi listrik, kerusakan generator, dllsb.
Di harian Kompas edisi 01 Okt 2009 disebutkan, pemadaman listrik belum dapat dipastikan kapan akan dihentikan karena Lampung defisit daya listrik. Saat ini sedang dibangun PLTU Sibalang di Lampung Selatan yang mampu mensupply 2X100 MW, diperkirakan selesai tahun 2011.
Jadi persiapkan rumah anda dengan lilin atau genset. Setidaknya masih ada 2 tahun ke depan kegelapan masih memayungi bumi Lampung.
Sisi baiknya (buat beberapa gelintir orang) : Setidaknya pabrik-pabrik lilin dan genset "semakin menyala". Lupakan lampu teplok dan petromak, karena langka dan mahalnya minyak tanah.
Yang mungkin jadi perenungan: apakah dengan pemadaman listrik yang nyaris setiap hari sampai tengah malam, akan berdampak pada minat belajar anak? Saya yang punya anak umur 2.5 tahun masih dengan gampangnya menggunakan "kesempatan" ini untuk jalan2 ke mall atau toko buku.
Tapi bagaimana dengan mereka yang punya anak yang sekolah di TK, SD, SMP, SMU?

Bukankah mereka harus belajar di bawah cahaya terang, bukan di keremangan lilin?

Atau haruskah setiap keluarga membeli genset yang harganya di kisaran Rp. 750,000-berjuta-juta, sedangkan untuk membayar iuran listrik pun mereka sudah megap2?

Percayalah, setelah berhasil mengkonversi minyak tanah ke gas elpiji, kita sekarang sedang dalam program meng-konversi tenaga air atau uap ke solar/ bensin.

No comments:

Post a Comment